CIREBON, Mediapriangan.com - Jalanan protokol dari Taman Pedati Gede hingga Alun-alun Keraton Kasepuhan berubah menjadi panggung seni raksasa saat Kirab Budaya bertajuk Mahkota Bertahta Cinta digelar meriah.
Ribuan pasang mata warga Cirebon dimanjakan dengan visual kontras namun harmonis, mulai dari keanggunan tari Bedaya para putri keraton hingga aksi tangguh para pekerja pabrik genteng.
Salah satu yang paling mencuri perhatian dalam Kirab Budaya kali ini adalah kehadiran Binaraga Jebor asal Jatiwangi.
Para pria berotot yang merupakan buruh pabrik genteng tradisional ini melakukan atraksi unik dengan mengangkat tumpukan genteng sebagai pengganti beban olahraga.
Kehadiran mereka bersandingan dengan arak-arakan sakral Mahkota Binokasih yang menjadi simbol kebesaran jati diri masyarakat Sunda dan Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan bahwa rangkaian kegiatan di Cirebon ini memiliki misi filosofis yang lebih dalam daripada sekadar tontonan visual.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kerajaan-kerajaan yang Ada di Tatar Sunda dalam Kirab Mahkota Binokasih
Baginya, kehadiran Mahkota Binokasih dan ragam seni lokal adalah pembuktian nyata atas kejayaan masa lalu yang harus menjadi modal menghadapi hari esok.
"Karena banyak di antara kita hari ini berbicara masa depan tetapi tidak mengerti sejarah masa lalu. Banyak orang juga yang hanya cerita masa lalu tidak mau bicara masa depan. Saya mengambil dua-duanya masa lalu adalah histori, masa lalu adalah filosofi, masa lalu adalah ideologi, masa depan adalah tantangan yang harus diwujudkan. Tak ada negara besar yang tidak terikat terhadap masa lalunya," tegas Dedi Mulyadi di hadapan masyarakat.
Agenda yang merupakan bagian dari Napaktilas Padjadjaran ini juga mempertegas bahwa keberadaan kerajaan besar di Jawa Barat bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur.
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa bukti autentik seperti Prasasti Batu Tulis dan artefak sejarah menjadi alasan kuat mengapa identitas daerah harus terus digaungkan.
"Bukan hanya cerita dan mimpi adanya Padjadjaran. Karena dibuktikan dengan fakta sejarah melalui Prasasti Batu Tulis dan Mahkota Binokasih yang sampai hari ini masih berdiri kokoh," tuturnya.