TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Praktik pelubangan badan saluran irigasi oleh sebagian warga untuk mengalirkan air langsung ke lahan persawahan menjadi salah satu temuan penting dalam peninjauan Irigasi Primer Ciramajaya yang dilakukan Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Arip Rachman.
Menurut Arip, tindakan tersebut memang dilakukan demi memenuhi kebutuhan air sawah. Namun di sisi lain, kebocoran yang ditimbulkan justru mengurangi pasokan air bagi petani lain yang mengikuti mekanisme distribusi melalui pintu irigasi.
"Petani yang tertib menunggu giliran dari pintu air justru dirugikan karena sebagian air sudah bocor lebih dulu akibat saluran yang dijebol," katanya, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga: Arip Rachman Desak Revitalisasi Irigasi Ciramajaya, Ratusan Hektare Sawah Terancam Tak Bisa Ditanami
Ia menilai persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik jaringan irigasi, tetapi juga lemahnya pengawasan terhadap pemanfaatan aset pemerintah.
Sebagai mitra kerja perangkat daerah yang menangani pembangunan infrastruktur dan sumber daya air, Komisi IV DPRD Jawa Barat mendorong adanya pengawasan lebih ketat terhadap saluran irigasi agar tidak lagi terjadi tindakan yang merusak fungsi jaringan.
Selain pengawasan, Arip menilai diperlukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga infrastruktur irigasi sebagai fasilitas publik yang dimanfaatkan secara bersama.
Baca Juga: Arip Rachman Soroti Perbaikan Jalan dan Irigasi dalam Pengawasan Pemerintahan di Salawu
Menurutnya, keberhasilan sistem irigasi sangat bergantung pada kepatuhan seluruh pengguna air terhadap aturan distribusi yang telah ditetapkan.
"Kalau semua mengambil air dengan cara melubangi saluran, tentu petani di wilayah hilir tidak akan pernah mendapatkan haknya," ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dapat memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keberlangsungan jaringan irigasi.***