Agam mengaku sedang berada di Jakarta saat insiden tragis itu terjadi, padahal dirinya sempat merasakan firasat buruk.
"Menyesal saya ada di Jakarta waktu itu. Padahal sudah ada firasat. Tapi saya tetap main di Jakarta sama teman-teman," ucapnya, menahan emosi.
Kisah Juliana Marins menjadi pengingat bahwa pendakian gunung bukan sekadar petualangan, tapi juga memerlukan persiapan matang dan kehati-hatian tinggi.
Sementara itu, sosok Agam Rinjani kembali menjadi simbol kepedulian dan keberanian dalam dunia pencinta alam Indonesia.***
Artikel Terkait
Detik-detik Evakuasi Juliana Marins dari Jurang Rinjani, Jenazah Ditemukan di Kedalaman 600 Meter
Wisatawan Brasil Jatuh ke Jurang Kawah Rinjani, Tim SAR Kerahkan Drone dan Puluhan Personel di Medan Ekstrem
Istana Buka Suara Usai Netizen Asing Serbu Akun Prabowo, Gegara Pendaki Brazil Terjatuh di Gunung Rinjani
Evakuasi Pendaki Brasil Juliana Marins di Jurang Rinjani Dilanjutkan Pagi Ini, Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Terberat
Agam Rinjani Ungkap Detik-Detik Evakuasi Juliana Marins, Menginap di Tebing Curam Bareng Jenazah Pendaki Brasil
Dibantu Kedubes Brasil, Keluarga Juliana Marins Apresiasi Upaya Basarnas Evakuasi di Jurang Gunung Rinjani