Akar Kontroversi Proyek Whoosh, Keputusan Pindah dari Jepang ke China, Skema B2B Dinilai Jadi Beban Panjang

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 22:04 WIB
Mengupas kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara.  (Instagram.com/@keretacepat_id)
Mengupas kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara. (Instagram.com/@keretacepat_id)

Mediapriangan.com - Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali memicu perdebatan panjang di ruang publik. Di tengah kebanggaan atas kemajuan transportasi nasional, muncul sorotan tajam mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas beban utang besar yang membayangi proyek ini.

Isu tersebut mencuat setelah politisi Akbar Faizal menyoroti analisis ekonom Faisal Basri yang memperkirakan masa balik modal proyek ini bisa lebih dari tiga dekade.

“Katakanlah 33 tahun saja, itu sudah terlalu lama. Itu bukan lagi investasi,” ujar Akbar dalam siaran YouTube miliknya pada Minggu, 19 Oktober 2025.

Baca Juga: War Tiket Kereta Api Lebaran 2025 Bikin Heboh! Warganet Greget, KAI Buka Suara Soal Masalah dan Syarat Pemesanan

Keputusan Awal Pindah ke China

Kontroversi makin memanas setelah pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengungkap siapa sosok yang pertama kali mengubah arah proyek dari Jepang ke China. Ia menyebut keputusan strategis itu berada di tangan Presiden ke-7 Joko Widodo.

“Tentu orang nomor satu republik ini, Pak Jokowi. Karena waktu itu (2014–2015) beliau presiden,” ucap Pambagio dalam diskusi publik.

Sebelumnya, Jepang telah menawarkan skema pinjaman antarnegara dengan bunga 0,1 persen. Namun keputusan diubah menjadi proyek melalui Kementerian BUMN dengan menggandeng investor China. Langkah ini sekaligus menggeser skema G2G menjadi sistem business to business (B2B) yang kini dinilai bermasalah.

Baca Juga: Gagal ke Piala Dunia 2026, Bepe Sindir Suporter Garuda, Jepang Menang 6-0 Saja Masih Mau Introspeksi

Skema Jepang vs China

Perubahan arah proyek dimulai ketika Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan menolak tawaran Jepang karena menilai kereta cepat bukan prioritas nasional. Presiden kemudian memberi mandat kepada Menteri BUMN Rini Soemarno untuk melanjutkan ke China.

“Presiden yang meminta Bu Rini untuk meneruskan ke China karena Jonan tidak bersedia. Jadi Presiden sendiri yang mengubah dari Jepang ke China,” ungkap Pambagio.

Model B2B membuat negara tidak dapat memberikan subsidi langsung. Meski begitu, risiko finansial dan beban bunga tetap menjadi tekanan besar terhadap keuangan negara.

Baca Juga: Petrokimia Gresik Sapu Bersih Livoli 2025, Mediol Yoku Borong Gelar MVP dan Best OH, Ini Daftar Peraih Penghargaan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X