Menurut Noviardi, tradisi mudik pada dasarnya menjadi mekanisme redistribusi ekonomi nasional dari kota besar menuju daerah.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga mekanisme ekonomi yang memindahkan likuiditas dalam skala besar dari kota ke desa. Uang beredar menjadi fondasi, tetapi belanja pemudik yang benar-benar menggerakkan ekonomi daerah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa selama pola mobilitas nasional masih didominasi Pulau Jawa, maka arus perputaran uang mudik Lebaran juga akan mengikuti pola tersebut.
Daerah yang menjadi tujuan utama pemudik akan terus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi daerah selama musim Lebaran.***
Artikel Terkait
Lonjakan Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Puncak Arus Mudik Diprediksi H-3 Idulfitri
Sinopsis Film Suzzanna: Witchcraft, Horor Indonesia Bertema Santet yang Tayang di Bioskop Lebaran 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti, Drama Komedi Saat Pulang Kampung Lebaran 2026, Ini Sinopsis dan Daftar Pemerannya
Kompensasi Sopir Angkot Jabar Cair Rp6,9 Miliar, Dedi Mulyadi Liburkan Sopir Saat Mudik Lebaran 2026