Diperkirakan sekitar 144 juta pemudik akan melakukan perjalanan pada musim Lebaran tahun ini. Pergerakan besar tersebut berpotensi menghidupkan ekonomi daerah, terutama melalui sektor perdagangan ritel, kuliner, transportasi lokal, hingga jasa pariwisata.
Distribusi uang beredar juga menunjukkan bahwa wilayah di Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas mudik nasional. Jawa Tengah misalnya memperoleh alokasi sekitar Rp26,32 triliun melalui 251 titik layanan penukaran uang.
Baca Juga: Kepala OJK Tasikmalaya Soroti Peran TPAKD Garut dalam Memperluas Akses Keuangan Masyarakat
Jumlah tersebut bahkan melampaui Jawa Timur yang menerima distribusi sekitar Rp24,6 triliun. Tingginya alokasi ini berkaitan dengan besarnya arus pemudik menuju wilayah tersebut yang diperkirakan mencapai sekitar 38 juta orang.
Lonjakan kedatangan masyarakat dari kota besar tersebut menjadi pendorong kuat bagi ekonomi daerah, terutama bagi pelaku usaha kecil yang melayani kebutuhan harian masyarakat selama masa libur Lebaran.
Dalam praktiknya, nilai transaksi yang terjadi di masyarakat bisa melampaui jumlah uang tunai yang dialokasikan. Hal ini karena uang yang sama dapat berputar berulang kali dalam aktivitas jual beli yang terjadi selama arus mudik.
Baca Juga: OJK Setujui Merger Empat BPR di Priangan Timur, Perkuat Permodalan dan Layanan untuk UMKM
Di sisi lain, beberapa daerah di luar jalur utama mudik nasional menerima distribusi uang yang jauh lebih kecil. Sulawesi Tenggara misalnya hanya memperoleh alokasi sekitar Rp1,2 triliun atau sekitar 0,65 persen dari total distribusi nasional.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas perjalanan pemudik yang relatif rendah ke wilayah tersebut. Selain itu, struktur ekonomi daerah setempat lebih bertumpu pada sektor pertambangan dan perikanan yang cenderung stabil sepanjang tahun.
Noviardi menilai dampak ekonomi mudik sangat bergantung pada tingkat mobilitas masyarakat. Daerah yang menjadi tujuan utama pemudik biasanya mengalami lonjakan konsumsi yang signifikan.
Sebaliknya, wilayah yang tidak dilalui arus utama mudik hanya merasakan peningkatan aktivitas ekonomi yang lebih terbatas. Hal ini membuat manfaat perputaran uang mudik Lebaran tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.
Data juga menunjukkan tren peningkatan nilai transaksi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Lebaran 2025, sekitar 154,6 juta pemudik menghasilkan perputaran uang mudik Lebaran sekitar Rp137,9 triliun.
Peningkatan tahun ini dipengaruhi oleh membaiknya daya beli masyarakat serta berbagai program pemerintah, termasuk fasilitas mudik gratis yang ikut mendorong konsumsi masyarakat di daerah.
Baca Juga: GERAKS Syariah Digelar OJK Tasikmalaya, Ribuan Majelis Taklim Ciamis Padati Masjid Agung DESKRIPSI
Artikel Terkait
Lonjakan Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Puncak Arus Mudik Diprediksi H-3 Idulfitri
Sinopsis Film Suzzanna: Witchcraft, Horor Indonesia Bertema Santet yang Tayang di Bioskop Lebaran 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti, Drama Komedi Saat Pulang Kampung Lebaran 2026, Ini Sinopsis dan Daftar Pemerannya
Kompensasi Sopir Angkot Jabar Cair Rp6,9 Miliar, Dedi Mulyadi Liburkan Sopir Saat Mudik Lebaran 2026