Dari sisi ketahanan, Alduro juga dirancang lebih kuat dan tidak mudah rusak. Material berbasis daur ulang ini menjadi bagian penting dalam solusi sampah plastik karena memanfaatkan limbah sebagai bahan utama.
“Kalau soal harga saya kurang tahu, tapi sepertinya lebih bersaing dan murah,” ungkap salah satu tukang pergantian atap Alduro.
Baca Juga: Sholat Idulfitri Muhammadiyah di Tasikmalaya Berlangsung Khidmat, Ribuan Jemaah Padati Dadaha
Direktur Utama PT Sirkular Karya Indonesia, Sugiarto Romeli, menegaskan bahwa penggunaan Alduro juga mampu meredam panas secara signifikan sehingga mendukung kenyamanan hunian sehat.
"Jadi kalau suhu panas, atap Alduro bisa mengurangi kira-kira 10 persen. Kalau misalnya suhu di luar rumah itu 35 derajat celsius, maka di dalam rumah sekitar 31-32 derajat celsius," kata Sugiarto saat hadir dalam forum Jaringan Pemred Promedia (JPP), pada Rabu, 18 Februari 2026 lalu.
"Seng justru akan menambah panas, suhu di luar 35 derajat celsius, di dalam rumah bisa 45 derajat celsius," terangnya.
"Dan atap ini sudah lolos tes pengujian dari Sukofindo," imbuhnya.
Baca Juga: Ngantuk Saat Mudik Lebaran, Anak Terpisah dari Orang Tua di Tasikmalaya, Polisi Bertindak Cepat
Selain kenyamanan, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama. Penggunaan material alternatif ini dinilai lebih aman dibandingkan asbes yang berisiko bagi pernapasan, sehingga semakin memperkuat konsep hunian sehat dalam program ganti atap rumah wartawan.
"Pada saat patah ataupun terkena gesekan, debu dari asbes kalau kita hirup itu mengandung serat yang berbahaya dan bisa menyebabkan kanker," terang Sugiarto.
"Kalau Alduro tidak, karena dari hasil tes uv untuk 10 tahun pemakaian tidak ada masalah," tandasnya.
Baca Juga: Macet Parah Jalur Selatan Jabar Saat Arus Mudik Lebaran, Bandung Tasikmalaya Tembus 8 Jam
Lebih jauh, program ini juga menjadi bagian dari solusi sampah plastik yang lebih luas. Sugiarto menyebut, ide pengembangan material Alduro berangkat dari persoalan limbah plastik yang terus meningkat, terutama sejak masa pandemi.
"Pada masa pandemi Covid-19, kami melihat beberapa masalah yang timbul, yaitu terutama masalah sampah plastik yang bahkan sampai sekarang belum ada jalan keluarnya," tuturnya.
"Kami lihat, plastik tertentu seperti botol Pet sudah ada recycle-nya walaupun hanya dicacah cuci akhirnya barang itu dijual ke Eropa," tambah Sugiarto.
Artikel Terkait
Viral SPPG Sidanegara 2 Cilacap Bandingkan MBG dan Palestina, Konten Tuai Kecaman hingga Klarifikasi
12 Jadwal Final Four Proliga 2026 Putri, Lengkap dengan Skema Pertandingan Menuju Grand Final
Kalisha Tebar 1.000 Mukena, Jangkau 70 Desa di Kabupaten Tasikmalaya
Lebaran Semakin Dekat, Jasa Permak Pakaian di Kota Tasikmalaya Banjir Pesanan
H-1 Lebaran, Pasar Cikurubuk Membludak! Harga Daging Sapi Tembus Rp170 Ribu per Kg, Warga Tetap Berburu
Seorang Istri Tertinggal di Rest Area Cipali saat Mudik Lebaran 2026, Begini Aksi Polisi Mengantarnya ke Keluarga