"Saya selalu menggunakan bahan bambu yang sudah tua sehingga tidak mudah patah. Dari sisi keruncingan dan warna juga bagus karena menggunakan mesin yang sudah memenuhi standar kualitas," jelasnya.
Soal pasokan bahan baku, Ai menjelaskan selama ini tak ada masalah. tambah Ai, bahan baku bambu sangat melimpah di Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur lainnya.
Ai juga menjelaskan, proses pembuatan tusuk sate mulai dari memotong sampai jadi membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat hari asal cuaca cukup bagus.
Dirinya berharap, ke depan biaya produksi usahanya yang sudah ia jalankan sejak tahun 2011 itu bisa kembali ditekan sehingga usaha memproduksi tusuk sate bisa terus berjalan.
"Karena kalau dari pesanan tusuk sate itu tidak akan berhenti selama para pedagang sate dan penganan lain masih ada. Apalagi modelnya stuck di situ, tidak harus inovasi produk seperti produk lain. Selain tusuk sate, saya juga bikin tusuk cilok dan tusuk sempol. Jadi alhamdulillah banyak variannya. Ya alhamdulillah berkat usaha ini bisa untuk pemenuhan ekonomi keluarga, menyekolahkan anak. Walaupun kecil-kecilan tapi berkelanjutan," kata Ai Nurhayati.***
Artikel Terkait
Juleha dan Manajemen Qurban Terpadu Kota Tasikmalaya Gelar Pelatihan Penyembelihan Hewan Kurban Sesuai Syariah
Beda dari Biasanya, Buruh di Kota Tasikmalaya Rayakan May Day 2026 Lewat Dialog Terbuka dan Forum Diskusi
Dorong Pelayanan Publik, Wali Kota Tasikmalaya Minta Forum Lurah Maksimal Implementasikan 7 Program Prioritas
Dorong UMKM Naik Kelas, Disperindag Kota Tasikmalaya Optimalkan Program PELAK Melalui Pelatihan Produk Olahan
Transformasi Ekonomi Digital Kota Tasikmalaya, Volume QRIS Priangan Timur Tumbuh Pesat hingga 579 Persen
Diky Candra Resmi Jabat Plh Wali Kota Tasikmalaya Saat Viman Alfarizi ke Tanah Suci, Ini Bocoran Plh Sekda