Banyak pesantren, katanya, kini mengembangkan kurikulum terpadu yang menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan umum, teknologi, hingga kewirausahaan.
“Pesantren bukan lembaga yang eksklusif atau tertinggal. Justru pesantren kini menjadi institusi yang dinamis, responsif terhadap perubahan sosial, dan siap menghadapi tantangan zaman,” tegas Didi.
Menurut Didi, sinergi antara nilai-nilai luhur dan semangat pembaruan menjadikan pesantren sebagai laboratorium sosial dan spiritual bagi lahirnya generasi yang berkarakter kuat, berdaya saing, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Melalui pendidikan berbasis nilai, disiplin, dan kemandirian, pesantren berpotensi besar menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada kesejahteraan dan keadaban,” ungkap Didi.
Di akhir kunjungannya, Didi menekankan pentingnya menjaga relevansi pesantren di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi.
“Pesantren tetap menjadi benteng moral dan sumber inspirasi dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan berkeadaban,” tutupnya.***