Buruknya kualitas air ini memaksa Dinas Kesehatan memberikan rekomendasi penggunaan air galon sebagai solusi jangka pendek.
Namun, kebijakan tersebut berdampak langsung pada membengkaknya biaya produksi dan menurunkan tingkat efisiensi operasional program.
Kondisi yang menimpa SPPG di Kota Tasikmalaya saat ini menjadi peringatan keras bagi keberlangsungan program gizi ke depan. Dinkes menegaskan bahwa aspek keamanan hayati tidak bisa ditawar demi mengejar target jumlah distribusi semata.
Menurut pihak otoritas kesehatan, pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dan penyediaan sumber air yang bersih adalah pondasi dasar. Hal ini krusial agar tujuan utama pemberian asupan gizi tidak justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan baru akibat sanitasi yang buruk.
"Bukan sekadar mengejar kuantitas dapur aktif, tetapi memastikan setiap piring yang tersaji benar-benar aman dikonsumsi," jelas Asep.***