Ketegangan Selat Hormuz Memuncak Usai Pasukan Bertopeng Militer Iran Sita Dua Kapal Kargo MSC

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Jumat, 24 April 2026 | 09:53 WIB
Video pasukan bertopeng Militer Iran geruduk dua kapal kargo MSC di Selat Hormuz viral. Ketegangan meningkat, AS sebut tindakan itu aksi perompakan. (X.com/@mog_russEN)
Video pasukan bertopeng Militer Iran geruduk dua kapal kargo MSC di Selat Hormuz viral. Ketegangan meningkat, AS sebut tindakan itu aksi perompakan. (X.com/@mog_russEN)

 

TIMUR TENGAH, Mediapriangan.com - Perairan strategis di Asia kembali memanas setelah munculnya rekaman dramatis penyitaan kapal di jalur perdagangan global.

Video yang beredar memperlihatkan sejumlah pasukan bertopeng dengan perlengkapan senjata lengkap melakukan penggerudukan terhadap kapal kontainer berukuran raksasa.

Aksi tersebut diduga dilakukan oleh komando Militer Iran terhadap armada milik perusahaan pelayaran Mediterranean Shipping Company (MSC).

Baca Juga: Ironi Kapal Gamsunoro Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pelaut RI Syok Temukan Seluruh Kru dari India

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat dua kapal kargo MSC yang menjadi sasaran dalam operasi tersebut, yakni MSC Francesca dan Epaminondas.

Pihak Teheran melalui media pemerintahnya mengklaim bahwa tindakan tersebut merupakan langkah penegakan hukum atas dugaan pelanggaran wilayah.

"Komando Militer Iran merilis rekaman pasukan mereka yang menaiki dan merebut dua kapal MSC di dekat Selat Hormuz hari ini," demikian bunyi laporan yang dikutip dari unggahan akun X @mog_ressEN pada Kamis, 23 April 2026.

Baca Juga: Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Lintasi Selat Hormuz, Upaya Diplomasi Iran Berhasil Amankan Pasokan Energi RI

Kronologi Pendudukan Kapal

Dalam video yang disiarkan televisi nasional setempat, pasukan bertopeng tersebut mendekati lambung kapal menggunakan perahu cepat.

Mereka kemudian terlihat menaiki kapal menggunakan tangga lipat sebelum akhirnya menguasai bagian dalam vessel berbendera Panama dan Liberia tersebut.

Penyitaan ini dilakukan di Selat Hormuz, sebuah titik sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Baca Juga: Indonesia Tidak Jadi Co-Sponsor Resolusi 2817 DK PBB, Diplomasi Timur Tengah Dinilai Lebih Penting

Alasan resmi yang dikeluarkan pihak otoritas adalah adanya dugaan manipulasi sistem navigasi dan operasi tanpa izin yang dilakukan oleh kedua kapal tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X