internasional

Studi Global Sebut 76 Persen Warga RI Khawatir Pekerjaan Digantikan AI, Berbanding Terbalik dengan Jepang dan Jerman

Rabu, 20 Agustus 2025 | 14:25 WIB
Ilustrasi kecemasan warga RI terhadap perkembangan AI yang dianggap dapat mengambil alih pekerjaan mereka. (Freepik/jcomp.com)

 

Mediapriangan.com - Kekhawatiran masyarakat dunia terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin mengemuka, terutama soal dampaknya pada lapangan pekerjaan.

Sebuah studi internasional terbaru menunjukkan perbedaan besar antara negara berkembang dan negara maju dalam menyikapi isu AI ini.

Survei bertajuk “Global Public Opinion on Artificial Intelligence (GPO-AI)” yang dirilis pada 2024 mengumpulkan pendapat 1.000 responden di 21 negara.

Baca Juga: Pertamina-Pindad Luncurkan ILI UT, Teknologi Canggih Inspeksi Pipa Migas Ultrasonik Buatan Anak Bangsa

Hasilnya, warga di negara berkembang cenderung jauh lebih waspada terhadap risiko otomatisasi dibandingkan masyarakat di negara maju.

Laporan tersebut disusun oleh Schwartz Reisman Institute for Technology and Society (SRI) bersama Policy, Elections, and Representation Lab (PEARL) dari University of Toronto.

Selain isu pekerjaan, studi ini juga menyinggung soal regulasi AI hingga bahaya deepfake.

Baca Juga: Buka Lembaran Lama Bailout BCA! Pengamat: Bukanlah Ancaman Bagi Stabilitas Perbankan

“Responden memandang anak-anak mereka dan generasi mendatang sebagai kelompok yang paling rentan terhadap kehilangan pekerjaan akibat mesin, lebih daripada diri mereka sendiri,” tulis studi tersebut, dikutip Rabu 20 Agustus 2025.

Di tingkat global, sekitar separuh responden mengaku khawatir pekerjaannya bisa hilang dalam 10 tahun ke depan. Namun, tingkat kecemasan paling tinggi tercatat di Indonesia.

Sebanyak 76 persen responden asal Indonesia menilai pekerjaan mereka berisiko digantikan mesin dalam satu dekade.

Baca Juga: Kasus Korupsi Bansos PKH 2020, KPK Tetapkan 3 Tersangka hingga Cekal Kakak Hary Tanoesoedibjo

Angka ini menempatkan Indonesia sejajar dengan India (75 persen) dan Pakistan (72 persen), tiga negara dengan kekhawatiran tertinggi soal ancaman AI terhadap tenaga kerja.

Halaman:

Tags

Terkini