Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Berulang, BPOM Ungkap Makanan Lebih dari 4 Jam Bisa Basi Sebelum Diterima Siswa
Gedung Berdiri, Biaya Sudah Berjalan
Persoalannya menjadi lebih serius karena pembangunan fisik KDKMP juga terus berjalan. Pada Maret 2026, Agrinas melaporkan 32.660 gerai sedang dibangun dan 2.700 gerai telah rampung 100 persen. Pemerintah menargetkan pembangunan fisik terus dipercepat.
Pembangunan tersebut bukan investasi tanpa biaya modal. Skema pemerintah memungkinkan pembiayaan bank hingga maksimal Rp3 miliar per unit, dengan tingkat bunga/margin/bagi hasil 6 persen per tahun dan tenor 72 bulan. Memang terdapat grace period enam bulan atau paling lama 12 bulan untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga/margin/bagi hasil.
Karena itu, semakin lama aset yang sudah selesai tidak segera produktif, semakin besar pula persoalan ekonominya. “Dalam bisnis sederhana saja, begitu investasi sudah keluar, aset harus secepat mungkin menghasilkan revenue. Kalau gedung sudah berdiri tetapi belum berjualan, manajer sudah direkrut tetapi belum bekerja, sementara biaya modal terus berjalan, ya ini tidak sehat. Bahasa sederhananya: bisa boncos sebelum bisnisnya benar-benar dimulai,” kata Agus.
Menurutnya, pembangunan fisik seharusnya berjalan paralel dengan kesiapan operasional. Begitu sebuah gerai selesai, manajernya masuk. Sistem IT aktif. Supplier masuk. Barang masuk. Transaksi dimulai. Revenue mulai tercipta. Jangan menunggu puluhan ribu gerai selesai baru kemudian sibuk memikirkan siapa yang mengoperasikan.
Baca Juga: Longsor Aceh Tengah Terjang Rumah saat Arisan Keluarga, 1 Anak Tewas dan 13 Warga Terluka
Koperasi Harus Segera Masuk Fase Bisnis
KDKMP sudah terlalu lama dibicarakan sebagai proyek pembangunan. Sekarang waktunya bergeser menjadi korporasi yang benar-benar berbisnis. Ukuran keberhasilannya bukan lagi berapa ribu gedung selesai dibangun atau berapa ribu manajer berhasil direkrut.
Ukuran berikutnya harus lebih konkret: berapa koperasi sudah buka, berapa omzetnya, berapa transaksi per hari, berapa produk masyarakat desa yang terserap, dan kapan koperasi mampu membayar seluruh biaya operasionalnya sendiri.
“Kalau saya melihatnya sebagai pengusaha, sekarang jangan lagi terlalu banyak bicara pembangunan. Kita harus bicara operasional dan revenue. Gedung sudah ada, orang sudah ada, investasi sudah keluar. Sekarang pertanyaannya cuma satu: kapan jualannya dimulai?” ujar Agus.
Program Kopdes Merah Putih terlalu besar untuk dibiarkan tersendat karena persoalan koordinasi. Manajer sudah direkrut. Pelatihan sudah dilakukan. Gedung terus berdiri. Modal sudah ditanam.
Berikutnya jangan rapat lagi untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab. Duduk bersama, putuskan, tempatkan manajernya dan buka koperasinya. Sebab dalam bisnis, waktu bukan sekadar jadwal. Waktu adalah biaya. Dan semakin lama sebuah investasi menganggur, semakin mahal harga yang harus dibayar.***
Artikel Terkait
Domba Garut Bisa Tembus Rp400 Juta, Grand Final SKDG 2026 Jadi Penggerak Budaya dan Ekonomi Peternak
Kecelakaan KM Virgo Transports 8 di Laut Jawa, 107 Selamat dan 6 Meninggal, Dugaan Kemiringan Masih Diinvestigasi
Terungkap Korban Baru Penipuan via Mobile Legends, Perempuan Cianjur Terjerat Pinjol
22 Warga Garut Jadi Korban Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8, Dua Korban Meninggal Dunia
Cerita Rinto Penumpang KM Virgo Selamat, Bertahan di Sisi Kapal Pakai Pelampung hingga Dievakuasi
Kapal Virgo Transport 8 Miring dalam 10 Menit, Penumpang Ungkap Tak Ada Alarm hingga Banyak Masih Tidur