Oleh: Acep Zoni Saeful Mubarok
Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi
dan Wakil Sekretaris FPP Jawa Barat
DUNIA terus berubah seiring perkembangan zaman. Kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), ekonomi digital, dan persaingan global, telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah hingga ke lingkungan pesantren.
Perubahan zaman yang begitu cepat memunculkan pertanyaan penting, yaitu sudah siapkah santri menghadapi tantangan hari ini dan masa depan? Pertanyaan ini patut kita renungkan, terutama dalam momentum Hari Santri, tanggal 22 Oktober 2026.
Sepanjang sejarah, santri selalu memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, membicarakan masa depan santri tidak cukup hanya dengan mengenang kejayaan dan perjuangan pesantren di masa lalu. Kita juga perlu melihat sejauh mana kesiapan dan kemampuan santri dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin beragam.
Untuk melihat kesiapan santri menghadapi perubahan zaman, kita perlu memperhatikan dua hal, yaitu peran santri hari ini (now) dan masa depan (next). Hari ini, santri dituntut untuk mampu berperan dan memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sementara itu, untuk masa depan, santri perlu mempersiapkan diri agar mampu membawa ilmu, nilai, dan tradisi pesantren ke tingkat nasional, bahkan internasional.
Pesantren memiliki keistimewaan yang membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya. Di pesantren, santri tidak hanya belajar kitab kuning (al-kutub al-turats), tetapi juga dididik untuk menghormati kiai dan guru, hidup sederhana, disiplin, mandiri, serta menjaga akhlak.
Nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi kekuatan dan jati diri santri dalam menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga, terutama di tengah kehidupan masyarakat yang semakin mementingkan diri sendiri dan mengejar materi. Namun, menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan.
Santri yang memahami kitab kuning juga perlu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula santri yang mendalami ilmu fiqih, perlu memahami berbagai persoalan ekonomi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, ilmu yang diperoleh di pesantren tidak hanya menjadi bekal bagi diri sendiri, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Berperan di tingkat global bukan berarti santri harus pergi atau menetap di luar negeri. Santri yang memiliki jiwa usaha dapat mengembangkan produk halal dan memasarkannya hingga ke pasar internasional.
Begitu pula santri yang memiliki kemampuan menulis dan menguasai teknologi dapat menghasilkan karya ilmiah atau menyebarkan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, melalui media digital yang dapat menjangkau masyarakat dunia.
Di sisi lain, salah satu tantangan besar pesantren saat ini adalah bagaimana melahirkan santri yang mandiri secara ekonomi. Selama di pesantren, santri sudah terbiasa menjalani kehidupan yang sederhana, mengurus kebutuhan sendiri, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Kebiasaan ini merupakan modal penting untuk membangun jiwa kewirausahaan. Karena itu, pesantren perlu terus mendorong kegiatan ekonomi produktif, seperti pertanian, peternakan, usaha makanan halal, koperasi, hingga usaha yang memanfaatkan teknologi digital.
Artikel Terkait
Creator Pers di Era Attention Economy, Saatnya Wartawan Berevolusi, Bukan Sekadar Bertahan
Reforma Agraria, Ujian Pemerintah Daerah
Keracunan MBG Berulang, Dapur 3.000 Porsi Disorot: Benarkah Program Ini Bawa Manfaat Ekonomi?
Media, Idealisme, dan Bisnis Media: Mengapa Jurnalisme Harus Berubah agar Tetap Bertahan
OTT Rektor Unsoed Buka Kotak Pandora Jalur Mandiri, KPK Beranikah Bongkar Kampus Lain?
Jangan Matikan Pers Saat Program Pemerintah Dikritik