Alasan Google Gelontorkan Rp500 Miliar untuk Akuisisi Keamanan Israel, Pengaruh Teknologi dan Isu Netralitas

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Jumat, 4 April 2025 | 08:58 WIB
Pengaruh dunia teknologi setelah Google memutuskan mengakuisisi Wiz, perusahaan yang pendirinya divisi intelijen siber militer Israel.  (DALL&middot, E / OpenAI)
Pengaruh dunia teknologi setelah Google memutuskan mengakuisisi Wiz, perusahaan yang pendirinya divisi intelijen siber militer Israel. (DALL&middot, E / OpenAI)

Ia juga menyoroti risiko keamanan yang muncul akibat akuisisi ini.

Baca Juga: Kate Middleton Makin Berpengaruh di Kerajaan Inggris, Ratu Camilla Disebut Ketar-ketir Taklukkan Popularitasnya

“Wiz tidak bisa dipercaya karena semua data pengguna mereka dikelola oleh perusahaan Israel yang dipimpin oleh mantan pejabat intelijen,” tambahnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh seorang peneliti yang meneliti hubungan antara Silicon Valley dan dunia intelijen.

Ia mengatakan bahwa mereka telah mendokumentasikan lebih dari 1.400 anggota aktif dan mantan personel Unit 8200, Intelijen Militer Israel, serta Direktorat Pertahanan Siber IDF yang kini bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi utama di AS.

Baca Juga: Januari Panas Parah! Suhu Cetak Rekor, Ilmuwan Bingung dan Khawatir Ini Tanda Bumi Makin Rusak, Ini Penjelasannya

“Jika Anda berdiri di Silicon Valley dan melempar batu, kemungkinan besar Anda akan mengenainya ke mantan atau anggota aktif Unit 8200,” ujar peneliti yang meminta anonimitas.

Ia menambahkan bahwa meskipun tidak semua orang yang berlatar belakang Unit 8200 terlibat dalam agenda rahasia, ada potensi tekanan atau godaan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum.

Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman infiltrasi asing dalam industri teknologi telah diidentifikasi sebagai risiko keamanan nasional oleh badan intelijen AS.

Baca Juga: Kemlu RI Buka Suara! Bantah Klaim Malaysia soal Dugaan Penyelundupan Narkoba dan Senjata di Kasus Penembakan 5 WNI

FBI bahkan pernah menyatakan kekhawatirannya terhadap potensi mata-mata yang bekerja di perusahaan teknologi dengan agenda tersembunyi untuk kepentingan negara lain.

“AS terus berbicara soal bahaya infiltrasi China di industri teknologi, tetapi hampir tidak pernah membahas Israel—padahal badan intelijen AS menganggap Israel sebagai ancaman kontra-intelijen utama setelah China, Rusia, dan Iran,” ungkap peneliti tersebut.

Khusus dalam kasus Wiz, ia menyoroti risiko memiliki mantan agen intelijen yang bekerja di sektor sensitif seperti penyimpanan data berbasis cloud.

Baca Juga: Trump Hentikan Bantuan Obat HIV, Menkes: Indonesia Terkena Dampaknya! Langkah Cepat Disiapkan untuk Atasi Krisis

“Ini adalah area yang memiliki akses luas terhadap data pengguna. Data-data ini sangat mudah untuk diambil, diunduh, atau ditransfer ke pihak lain,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X