Mediapriangan.com - Isu dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali menjadi sorotan publik. Proyek yang awalnya digadang sebagai simbol kemajuan transportasi nasional itu kini justru diwarnai pertanyaan besar mengenai efisiensi dan transparansi anggaran.
Kecurigaan menguat setelah Pengamat Ekonomi, Prof. Anthony Budiawan, menilai adanya kejanggalan dalam pembengkakan biaya pembangunan yang melonjak signifikan hingga ratusan triliun rupiah. Menurutnya, lonjakan itu menandakan adanya potensi penyimpangan serius yang perlu diselidiki aparat penegak hukum.
“Harus diselidiki kenapa proyek ini bisa sampai dua kali lipat lebih tinggi dari yang di Cina,” ujar Anthony dalam siniar Forum Keadilan di YouTube pada Senin, 20 Oktober 2025.
Anthony juga menyoroti proses tender awal yang sempat melibatkan Jepang. Ia menduga keikutsertaan Jepang saat itu hanya dijadikan pembenaran agar harga proyek yang diajukan China tampak wajar, meski biayanya jauh lebih besar.
Pernyataan Anthony kemudian menuai tanggapan dari eks Menko Polhukam, Mahfud MD, dalam siniar Mahfud MD Official yang tayang Selasa, 21 Oktober 2025. Mahfud menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seharusnya tak perlu menunggu laporan resmi untuk memulai penyelidikan dugaan mark up tersebut.
“Kalau melihat pernyataan Pak Anthony, ini mengatakan ada dugaan mark up. Dari sisi hukum itu perlu dipelajari, apakah betul seperti itu. Kalau pun ada, berarti perlu diselidiki,” ujar Mahfud.
Menurutnya, KPK memiliki kewenangan untuk memeriksa dugaan penyimpangan anggaran secara proaktif, terlebih karena proyek strategis nasional seperti Whoosh melibatkan dana besar dari APBN maupun pinjaman luar negeri.
Biaya Bengkak dan Bunga Pinjaman Mencurigakan
Dalam diskusi yang sama, moderator Rizal Mustary turut menguraikan data pembengkakan biaya yang dianggap janggal. Proyek yang semula ditaksir 5,5 miliar dolar AS kini membengkak menjadi 7,22 miliar dolar AS, atau sekitar Rp118 triliun.
Anthony juga menyoroti perbedaan mencolok pada bunga pinjaman: Jepang hanya menawarkan bunga 0,1 persen per tahun, sementara China menetapkan 2 persen per tahun — 20 kali lipat lebih besar.
Artikel Terkait
4 Fakta Terbaru Skandal Korupsi Kuota Haji 2024, Modus Oknum Kemenag Peras Khalid Basalamah hingga Rp115 Juta
Drama Korupsi Kuota Haji 2024! KPK Sebut Ustaz Khalid Basalamah Paling Tahu Oknum Kemenag, Travel di Jatim Disisir
Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023-2024, KPK Tunggu Audit BPK, Potensi Kerugian Negara Capai Rp1 Triliun
Jejak Korupsi Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Tasikmalaya, Tiga Distributor Resmi Jadi Tersangka
Kerugian Negara Kasus Korupsi Pupuk Bersubsidi di Tasikmalaya Bisa Lebih dari Rp16 Miliar
Kejari Kabupaten Tasikmalaya Dalami Kasus Korupsi Pupuk Bersubsidi, Periksa Tiga Tersangka di Lapas IIB
KPK Bongkar Modus Travel Ilegal di Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024, Uang Dikembalikan Hampir Rp100 Miliar
Jembatan Shiratal Mustaqim Tayang perdana di Bioskop Tasik XXI Plaza Asia, Sentil Dosa Korupsi Lewat Teror Akhirat
Kejari Tasikmalaya Periksa Ulang Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pupuk Bersubsidi di Lapas
Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024 Kian Panas, KPK Dalami Aliran Uang, Distribusi Kuota, hingga Fasilitas Jemaah