“Selama ini budaya sering dilihat sebagai sesuatu yang ditampilkan. Padahal, budaya itu bekerja mengatur cara hidup, ekonomi, bahkan relasi manusia dengan alam,” ujarnya.
Sejalan dengan hal itu, Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menegaskan bahwa keberlanjutan adalah kunci utama.
Baca Juga: Taliabu Gandeng ICCN, Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Jalan Baru Lepas dari Ketergantungan Tambang
Zandri Aldrin menyatakan bahwa orientasi festival ini bukan sekadar seremoni singkat, melainkan pembentukan sistem jangka panjang.
“Kita tidak sedang membuat festival satu kali. Kita sedang membangun sistem yang memungkinkan budaya menjadi sumber daya ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Anwar selaku Project Leader sekaligus Direktur Aktivasi Kebudayaan dan Pusaka ICCN, menyebutkan bahwa dampak nyata secara sosial dan ekonomi hanya bisa diraih jika budaya dipahami sebagai praktik keseharian.
“Budaya itu bekerja dalam keseharian. Ketika ia dihidupkan, bukan hanya ditampilkan, maka dampaknya akan nyata baik secara sosial maupun ekonomi,” ujarnya.
Selama tiga hari di Malang, Indonesia Culture Festival 2026 akan diisi dengan berbagai program aktivasi seperti workshop, cultural residency, hingga forum Leader’s Talk.
Agenda tersebut dirancang untuk memperkuat ekosistem budaya melalui penjenamaan kota dan kolaborasi lintas sektor yang difasilitasi lewat sesi business matching.***
Artikel Terkait
Retrospektif Kota Kreatif Diluncurkan ICCN, E-Book Dokumentasikan Perjalanan Kota Kreatif Indonesia
Open Call ICCN Dibuka, Pelaku Ekonomi Kreatif Berkesempatan Ajukan IP Kreatif untuk Kolaborasi Nasional
ICCN Dukung Film Pelangi di Mars, Ajak Publik Nonton Karya Anak Bangsa yang Inspiratif
ICCN Buka Riset Kota Kreatif Indonesia, Akademisi Diajak Perkuat Data Ekonomi Kreatif Nasional
Momentum Ekonomi Kreatif Disorot, ICCN Dorong Pembenahan Sistem Jasa Kreatif Nasional
ICCN Gandeng Greeneration Foundation, Ekonomi Kreatif Berkelanjutan Jadi Fokus Kolaborasi