Guruh Sukarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun, Jenazah Sang Maestro Seni Dimakamkan di Karet Bivak

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Sabtu, 26 September 2026 | 18:54 WIB
Mengenang warisan budaya seni dari putra Presiden RI ke-1 Soekarno, Guruh Sukarnoputra yang wafat pada Sabtu, 26 September 2026. (Instagram.com/@infipop.id)
Mengenang warisan budaya seni dari putra Presiden RI ke-1 Soekarno, Guruh Sukarnoputra yang wafat pada Sabtu, 26 September 2026. (Instagram.com/@infipop.id)

Baca Juga: Terbaru, Tito Karnavian Ungkap Scan Wajah Penerima Bansos Mulai Disiapkan, Ini Tujuan dan Tahapannya

Kemampuan Guruh dalam menari bahkan sudah terlihat sejak usia dini. Ia mempelajari berbagai tarian tradisional dari sejumlah daerah, termasuk Jawa, Sunda, Bali, dan Minang.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi karya-karya yang membawa unsur tradisional Indonesia ke dalam bentuk pertunjukan dan musik yang lebih modern.

Guruh Gipsy dan eksperimen musik Indonesia

Salah satu karya yang memperlihatkan keberanian Guruh dalam mengeksplorasi budaya adalah Guruh Gipsy yang lahir pada 1976.

Karya tersebut digarap Guruh bersama sejumlah musisi, di antaranya Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution. Mereka memadukan gamelan Bali dengan progressive rock dalam sebuah eksperimen musik yang pada masanya tergolong tidak lazim.

Baca Juga: Menteri Imipas Agus Andrianto Sidak Lapas Cibinong, Sosok yang Diduga Sembunyi Saat Ombudsman Masuk Kamar Dicari

Guruh Gipsy juga menjadi bagian penting dari perjalanan musik Indonesia karena menghadirkan identitas budaya lokal dalam kemasan musik modern.

Album tersebut dicetak secara terbatas sekitar 5.000 keping kaset. Karya itu kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik pop Indonesia.

Selain Guruh Gipsy, perjalanan kreatif Guruh Sukarnoputra juga melahirkan sejumlah karya yang dikenal luas. Di antaranya Renjana yang meraih kemenangan dalam Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia 1976.

Nama Guruh juga melekat pada sejumlah lagu seperti Galih dan Ratna, Gita Cinta, Lenggang Puspita, hingga Kembalikan Bali Padaku.

Baca Juga: Terbaru, Tito Karnavian Ungkap Scan Wajah Penerima Bansos Mulai Disiapkan, Ini Tujuan dan Tahapannya

Swara Maharddhika membawa seni ke panggung besar

Guruh Sukarnoputra tidak hanya berkarya melalui musik. Ia juga membangun ruang kreatif yang mempertemukan tari, musik, tata panggung, dan kebudayaan Indonesia dalam pertunjukan berskala besar.

Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika. Kelompok seni tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Guruh dalam mengembangkan seni pertunjukan di Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X