nasional

Menyelami Fenomena Cancel Culture, Kasus Olokan Gus Miftah ke Penjual Es Teh Manis dan Penghakiman Publik di Medsos

Jumat, 13 Desember 2024 | 20:19 WIB
Poster Petisi 'Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden' pada 4 Desember 2024. (change.org)

Dalam banyak kasus, ini juga menjadi cara untuk menyoroti isu-isu seperti rasisme, seksisme, dan ketidakadilan.

Baca Juga: Gus Miftah Mundur dari Jabatan Utusan Khusus Presiden, Kontroversi Ejekan ke Pedagang Es Teh dan Polemik Gelar 'Gus'

Dikutip dari Pew Research Center, 22% warga Amerika Serikat menganggap cancel culture sebagai sebuah gerakan yang mempengaruhi karier tokoh publik sejak 2020, dengan hampir separuh responden menyebutkan bahwa ini adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh pelaku.

Fenomena ini memang tidak hanya terbatas pada selebriti, namun juga menjangkau berbagai kalangan, termasuk politisi dan pengusaha yang dapat dengan mudah terjebak dalam kritik sosial.

Contoh nyata dari cancel culture dapat dilihat pada berbagai kasus, salah satunya melibatkan aktor Korea Selatan Kim Seon-ho yang terjerat dalam skandal aborsi.

Baca Juga: Kasus Ejekan Gus Miftah ke Penjual Es Teh, Boy Candra Soroti Permintaan Maaf yang Tak Sepenuhnya Hilangkan Luka

Skandal tersebut membuatnya kehilangan ribuan penggemar dan kontrak-kontrak proyek film yang telah disepakati.

Kasus serupa juga terjadi di Indonesia, di mana artis Saipul Jamil yang terlibat dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur diboikot dari berbagai program televisi sebagai bagian dari respons sosial atas tindakannya.

Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana cancel culture berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial, terutama ketika hukum dianggap tidak cukup memberikan efek jera bagi pelaku.

Baca Juga: Gus Miftah Sebut 'Goblok' ke Penjual Es Teh Bakul, Ini 4 Fakta Kontroversi yang Bikin Heboh hingga Permintaan Maaf

Cancel culture memang tidak dapat dihindari, tetapi penting untuk melihatnya sebagai bagian dari dinamika masyarakat yang menuntut tanggung jawab dan etika yang lebih tinggi dari setiap individu, terutama mereka yang berada di posisi publik.

Meskipun demikian, ada juga yang mengkritik gerakan ini sebagai bentuk penghakiman sepihak yang terkadang berlebihan, tanpa memberi ruang bagi pertobatan atau penjelasan.

Sebagai tokoh publik, menjaga citra dan etika menjadi semakin penting di era digital ini, di mana setiap ucapan dan tindakan dapat dengan cepat tersebar dan menuai reaksi. ***

Halaman:

Tags

Terkini