Chatib Basri Ungkap Penyebab Rupiah Melemah, Risiko Fiskal Jadi Sorotan Saat Investor Mulai Kehilangan Confidence

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 10 Juni 2026 | 08:45 WIB
Pelemahan rupiah disebut berkaitan dengan risiko fiskal dan confidence investor. Chatib Basri menepis kondisi 2026 mirip 1998. (Instagram.com/@chatibbasri)
Pelemahan rupiah disebut berkaitan dengan risiko fiskal dan confidence investor. Chatib Basri menepis kondisi 2026 mirip 1998. (Instagram.com/@chatibbasri)

 

JAKARTA, Mediapriangan.com - Perdebatan mengenai pelemahan rupiah kembali mengemuka seiring meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Di tengah berbagai faktor global yang memengaruhi pasar keuangan, sejumlah analis menilai faktor domestik justru memiliki peran besar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengungkapkan bahwa persoalan utama yang saat ini menjadi perhatian pasar bukan semata konflik geopolitik internasional.

Menurutnya, risiko fiskal dan tingkat confidence investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah menjadi faktor yang lebih dominan dalam menjelaskan pelemahan rupiah.'

Baca Juga: Digital Wellbeing Guidebook Diluncurkan, YouTube Dukung Perlindungan Anak di Ruang Digital Sesuai PP TUNAS

Dalam pemaparannya di Jakarta pada Selasa, 9 Juni 2026, Chatib Basri menjelaskan bahwa hasil analisis yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan kuat antara risiko fiskal dan pergerakan nilai tukar rupiah.

"Persoalan kita itu adalah soal confidence di fiskal," kata Chatib di Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa pengukuran dilakukan menggunakan indikator Credit Default Swap atau CDS, yakni instrumen yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar surat utang negara.

Dari hasil analisis tersebut, sekitar 23 persen variasi yang menyebabkan pelemahan rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan CDS.

Baca Juga: WIITEX 2026 Dorong Ekspor Teh Kopi Kakao Jabar, Pasar Global Dibidik Lewat Business Matching Internasional

Sebaliknya, pergerakan nilai tukar rupiah hanya memberikan kontribusi sekitar 2,3 persen terhadap perubahan CDS.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persepsi pasar terhadap risiko fiskal memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dampak fluktuasi mata uang terhadap tingkat risiko suatu negara.

Menurut Chatib Basri, tanda-tanda meningkatnya risiko fiskal sebenarnya telah terlihat sejak awal tahun. Data menunjukkan Credit Default Swap Indonesia mulai mengalami tekanan sejak Januari 2026, jauh sebelum memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X