“Memang dari awal kehadiran mereka sebagai tim reformasi itu sudah tanda tanya besar, bukan hanya kami tapi juga publik, ‘Kok seperti ini?’” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa komposisi tersebut memunculkan kesan Reformasi Polri dilakukan secara tidak sepenuhnya.
“Kondisi ini jadi kayak ada reformasi setengah hati,” kata Sri Radjasa.
Baca Juga: Wakapolri Dedi Prasetyo Akui Kelemahan SPKT Saat RDP, Soroti Layanan Publik Polri
Isu Intervensi di Balik Audiensi Roy Suryo
Kritik Sri Radjasa semakin mengemuka ketika ia menyinggung polemik Audiensi Roy Suryo di STIK-PTIK yang kemudian diwarnai Walk Out Audiensi. Ia menilai keputusan Jimly Asshiddiqie dalam forum tersebut tidak terlepas dari tekanan pihak yang berkaitan dengan Komisi Reformasi Polri.
“Awalnya, Refly menghendaki pertemuan itu satu-satu, dengan Pak Jimly, Pak Mahfud, dan dengan Pak Yusril. Tadinya, kita mau mengadakan pertemuan terpisah,” ujar Sri Rajasa.
Menurutnya, undangan mendadak dari Ahmad Dofiri kepada Refly Harun menjadi faktor yang mengubah format pertemuan.
“Di situ (PTIK) saya pikir juga tidak fair karena di situ kelihatan sekali ada intervensi para petinggi Polri yang ada di tim reformasi kepada Jimly untuk tidak menghadirkan Roy suryo cs dengan alasan sebagai tersangka,” tegasnya.
“Ini ada tekanan, tma di situ ada Tito, Sigit juga ada. Jadi, semacam ada kekhawatiran,” tandasnya.
Publik Tunggu Penjelasan Lebih Lanjut
Seiring dorongan agar Reformasi Polri dilakukan lebih objektif, kritik Sri Radjasa menambah tekanan terhadap komisi agar memberikan klarifikasi terkait independensi mereka.
Terlebih, keterlibatan Petinggi Polri yang berulang kali menjadi perbincangan membuat isu integritas komisi terus mencuat.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Komisi Reformasi Polri terkait pernyataan Sri Radjasa, maupun perkembangan lanjutan dari situasi yang memicu Walk Out Audiensi dalam Audiensi Roy Suryo tersebut.***