Evaluasi Besar Program MBG, Said Abdullah Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 29 September 2025 | 21:21 WIB
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah usul rehabilitasi kantin jadi dapur MBG.  (Instagram/mh_said_abdullah)
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah usul rehabilitasi kantin jadi dapur MBG. (Instagram/mh_said_abdullah)

Mediapriangan.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto, kembali jadi sorotan. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh agar program ini berjalan lebih optimal dan aman bagi siswa penerima manfaat.

Said menilai sejumlah persoalan yang muncul belakangan ini, termasuk kasus keracunan massal ribuan siswa di beberapa daerah, harus dijadikan pelajaran penting.

Kantin Sekolah Jadi Dapur MBG

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, salah satu langkah perbaikan yang mendesak adalah rehabilitasi kantin sekolah agar dapat difungsikan sebagai dapur MBG.

Baca Juga: Fakta Terkini Tragedi Keracunan Massal MBG di KBB, Terungkap Bakteri Pembusuk hingga Usulan Dapur Khusus Sekolah

“Bebannya terlalu berat kalau 3.000 (porsi), diselesaikan saja 1.000 (porsi) atau pemerintah dalam hal ini mengambil posisi yang ekstrem, langsung dapur MBG di sekolah-sekolah,” ujar Said kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senin (29/9/2025).

Dengan model dapur khusus di sekolah, beban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan berkurang, dan distribusi makanan menjadi lebih terkontrol. Selain itu, kualitas higienitas dan sanitasi akan lebih mudah diawasi.

“Sehingga kantin sekolah direhab, diperbaiki, kemudian bagaimana dicek sanitasinya, dan cakupannya hanya di sekolah itu saja. Itu akan lebih luar biasa,” jelas Said.

Baca Juga: Kemenkes Perketat Awasi MBG, Wajibkan SLHS, Gerakkan Puskesmas, dan Pantau Dapur SPPG untuk Cegah Keracunan

Soroti Kasus Keracunan Massal

Said menegaskan, evaluasi MBG harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari anggaran, mekanisme distribusi, hingga keterlibatan tenaga ahli gizi.

Kasus keracunan yang menimpa lebih dari 5.600 siswa menjadi bukti lemahnya pengawasan rantai penyediaan makanan. Hasil pemeriksaan di sejumlah daerah menunjukkan beberapa menu terkontaminasi bakteri akibat pengolahan dan penyimpanan yang tidak sesuai standar.

“Muncul isu bagaimana tentang anggarannya, saya berpendapat kalau memang harus dievaluasi secara menyeluruh silakan evaluasi,” kata Said.

Baca Juga: Terkini Kasus Keracunan MBG, Dapur SPPG Ditutup Sementara, Pemerintah Wajibkan Sertifikat Higienis dan Ahli Gizi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X