Kebijakan ini memicu kekhawatiran di internal pemerintahan AS yang fokus pada isu keamanan nasional.
Perpanjangan gencatan ini terjadi di tengah keberhasilan Trump menurunkan tarif dengan Uni Eropa dan Jepang, namun gagal mencapai kesepakatan serupa dengan India dan Brasil. Akibatnya, dua negara tersebut tetap terkena tarif tinggi.
Baca Juga: Filipina Sukses Deal Tarif Impor 19 Persen dengan AS, Trump Klaim Nol Tarif untuk Produk Amerika
Meski ada jeda perang dagang, AS masih memberlakukan tarif tambahan 30 persen terhadap barang impor dari China, membuat tarif rata-rata di atas 50 persen.
Sementara itu, China mengenakan tarif 10 persen untuk seluruh barang AS, ditambah 10–15 persen pada komoditas strategis seperti kedelai dan energi.***
Artikel Terkait
Putin Tawarkan Mediasi Iran dan Israel Demi Hentikan Serangan tapi Trump Tolak dan Sindir Rusia Urus Perang Sendiri
Trump Dikabarkan Siap Serang Iran, Khamenei Tegaskan Tak Akan Menyerah Meski Teheran Sudah Digempur Udara
Trump Kumpulkan Dewan Keamanan, AS Tuding Iran Bisa Produksi Bom Nuklir dalam Beberapa Pekan Usai Serang Israel
Trump Klaim Hancurkan Tiga Fasilitas Nuklir Iran, Ultimatum Serangan Lebih Besar Jika Damai Tak Disepakati
Tak Gentar Ancaman Trump, Istana Tegaskan RI Tak Akan Mundur dari BRICS Meski Dihantam Tarif Tambahan 10 Persen
Donald Trump Meradang! BRICS Kini Diperkuat Indonesia, Balas dengan Ancaman Tarif Impor ke Negara Anggota