Pengakuan Inggris terhadap Palestina Picu Ketegangan Israel, Tapi Jadi Secerca Harapan Menuju Perdamaian

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 22 September 2025 | 21:17 WIB
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (kiri) akui Palestina merdeka di tengah Menteri Keamanan Israel, Ben Gvir (kanan) desak pencaplokan Tepi Barat.  (Instagram.com/@keirstarmer - @otzma_yehudit)
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (kiri) akui Palestina merdeka di tengah Menteri Keamanan Israel, Ben Gvir (kanan) desak pencaplokan Tepi Barat. (Instagram.com/@keirstarmer - @otzma_yehudit)

Baca Juga: Sempat Diragukan, Menkeu Purbaya Bela Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,12 Persen Sah dan Valid

Smotrich mendorong Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera mengambil langkah.

“Bapak Perdana Menteri, waktunya sekarang dan ada di tangan Anda,” tegas Smotrich.

PM Netanyahu sendiri menyebut pengakuan itu sebagai “hadiah besar bagi terorisme”.

"Negara Palestina tidak akan didirikan di sebelah barat Sungai Yordan,” ungkapnya kepada AFP, Senin, 22 September 2025.

Netanyahu menegaskan Israel akan menentang pengakuan Palestina di forum PBB pekan depan.

Baca Juga: Hotman Paris Protes Bunga Turun, Tapi Strategi Menkeu Purbaya Gelontorkan Rp200 Triliun ke Himbara Tuai Hasil

“Kita juga perlu berjuang, baik di PBB maupun di semua arena lainnya, melawan propaganda palsu yang ditujukan kepada kita. Komunitas internasional akan mendengar dari kita tentang masalah ini dalam beberapa hari mendatang," tambahnya.

Respons Palestina: Pesan Harapan

Di sisi lain, Palestina menyambut dukungan internasional sebagai pesan penting bagi kemerdekaan mereka.

Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menyebutnya sebagai pesan harapan bagi rakyat Palestina.

Baca Juga: APBN 2025 Catat Defisit Rp321,6 Triliun hingga Agustus, Tapi Keseimbangan Primer Masih Surplus Rp22 Triliun

“Di atas segalanya, ini adalah pesan harapan bagi rakyat Palestina, pesan harapan untuk negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat,” ujar Aghabekian dalam konferensi pers di Ramallah, dikutip Al-Jazeera, Senin, 22 September 2025.

Ia menambahkan, tindakan Israel merupakan serangan sistematis yang dirancang untuk menghapus eksistensi, budaya, dan masa depan rakyat Palestina.

Hingga kini, publik internasional terus menantikan perkembangan nasib kemerdekaan Palestina, yang didukung ratusan negara sebagai secerca harapan menuju perdamaian.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X